Mon. Mar 30th, 2020

Sepatu Lari “Nike” Akhirnya Diizinkan di Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade Tokyo akan dimulai pada musim panas tahun ini, regulasi pun semakin dimatangkan pada tiap cabang olahraga. Ada satu hal yang lumayan ramai diperbincangkan, yaitu tentang regulasi peralatan olahraga yang akan dipakai oleh para atlet dimana salah satu kriteria nya “equipment” yang dipakai oleh para atlet tidak boleh memberikan bantuan yang berpotensi memberikan keuntungan pada hasil akhir atlet tersebut.

Salah satu brand ternama yakni “Nike” dengan salah satu seri dari produk sepatu lari nya “vaporfly” mulai dipermasalahkan. Hal tersebut berkaitan dengan performa dari pelari maraton asal Kenya, Eliud Kipchoge yang finis kurang dari dua jam dalam 26.2 mil dimana memecahkan stigma “ketidakmungkinan” yang dipahami beberapa orang. Rekor tersebut diikuti oleh pelari lainnya pada maraton wanita yatu Brigid Kosgei yang juga berasal dari Kenya. Ada kesamaan pada 2 pelari tersebut, mereka sama-sama memakai sepatu Nike seri Vaporfly.

Vaporfly sendiri merupakan produk Nike yang launching pada 2017 untuk pertama kalinya. Sepatu ini dilengkapi dengan teknologi plat karbon fiber, busa ringan dan pad depan yang keras sehingga memberikan sensasi mendorong pada si pemakai. Klaim yang disampaikan oleh Matt Nurse sebagai wakil presiden dari Nike Explore Team Sport Research Lab, sepatu tersebut dapat mengurangi effort yang dikeluarkan oleh pelari sebanyak 4%, singkatnya dia mengatakan, “Anda akan 4% lebih baik, tidak diragukan lagi, kami sudah mengujinya dalam beberapa variasi jarak terhadap kecepatan dan kemampuan”.

“Pada kenyataannya secara fisik, sangatlah sulit untuk para elite runners untuk finis lebih cepat 1 menit daripada waktu mereka sebelumnya, dengan hanya memakai sepasang sepatu dan anda mencatatkan waktu lebih cepat 2 menit, itu sangat menakjubkan, ini bukan kemajuan kecil dalam teknologi sepatu, ini kemajuan yang benar-benar sangat berbeda”, kata Ryan Hall, mantan pelari profesional asal Amerika.

Sementara itu, Federasi Atletik Dunia mengatakan, “Faktanya, kemajuan teknologi pada sepatu baru-baru ini dapat mengancam nilai integritas pada olahraga itu sendiri”. Pendapat tersebut menggugah penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan diberlakukannya batasan-batasan baru terhadapt beberapa parameter pada kompetisi olahraga terutama di sisi equipment.

Cukup dapat dipahami kekhawatiran yang muncul karena perkembangan teknologi pada peralta pendukung para atlet, selain dapat mempertanyakan kualitas kemampuan sebenarnya si atlet, itu juga dapat membuat kompetisi dirasa tidak murni lagi karena akan menjadi kompetisi brand peralatan olahraga, bukan kompetisi olahraga.

Pada akhirnya, ada dua regulasi tambahan tentang spesifikasi tools yang boleh digunakan atlet: Sepatu tidak boleh mimiliki lebih dari satu plat karbon fiber, dan tinggi sol tidak boleh melebihi 40 milimeter. Pada kasus ini, semua jenis dari seri produk Vaporfly memenuhi kriteria. Sementara prototipe yang dipakai Kipchoge belakangan statusnya masih abu-abu tentang penggunaannya. Hal tersebut diperkuat oleh fakta bahwa Nike belum menjelaskan secara detail tentang spesifikasi prototipe tersebut.

Nike Vaporfly ZOOMX
(Sumber: Nike.com)

Di sisi lain, banyak perusahaan sportswear yang memiliki produk dengan bahan serupa. Deckers Outdoor Corp. memiliki seri Hoka yang bisa ditebus dengan mahar 180$ (Rp 2,45 Juta), disusul dengan rencana Bershire Hathaway Inc dengan seri Brooks nya dengan harga 250$ (Rp 3,4 Juta) yang mana setara dengan harga Vaporfly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blogs

Group Members does not create any posts yet