Mon. Mar 30th, 2020

Banjir lagi, WHY?

Beberapa titik di Jakarta pagi hari tadi kembali terendam banjir. Wilayah tersebut meliputi beberapa titik di Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Sudah diperkirakan sebelumnya akan terjadi banjir karena pada malam hari Jumat, BPBD DKI sudah memberi peringatan siaga III bendungan Katulampa atau status Waspada.

Beberapa titik di Jakarta pagi hari tadi kembali terendam banjir. Wilayah tersebut meliputi beberapa titik di Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Sudah diperkirakan sebelumnya akan terjadi banjir karena pada malam hari Jumat, BPBD DKI sudah memberi peringatan siaga III bendungan Katulampa atau status Waspada.

Sebetulnya Jakarta yang memang merupakan daerah dataran rendah sudah sejatinya rawan tergenang banjir, ditambah curah hujan yang tinggi di hulu menambah probabilitas terjadinya banjir, terutama daerah utara Jakarta yang merupakan daerah hilir. Selain itu, pemanfaatan waduk-waduk atau danau buatan yang ada di Jakarta masih belum optimal, serta terobosan pembangunan yang kian agresif di daerah hilir semakin membuat pusing siapa saja yang terpilih untuk mengurus Ibu Kota. Belum lagi jumlah manusia yang terus bertambah di DKI tiap tahunnya.

Sejatinya, waduk-waduk yang ada seperti Waduk Pluit misalnya, yang tadinya merupakan daerah rawa-rawa, pada tahun 1960 direncanakan sebagai polder Pluit dan ditetapkan sebagai kawasan tertutup. Setelah itu, di bawah Otorita Pluit, daerah tersebut dikembangkan menjadi Pluit Baru untuk pengembangan perumahan, industri, dan waduk hingga meliputi daerah Muara Karang, Teluk Gong dan Muara Angke yang difungsikan menjadi perumahan, pembangkit listrik serta kampung nelayan. Barulah pada tahun 70-an kawasan Pluit menjadi pemukiman modern dengan kawasan rekreasi dan lokasi industri. Waduk Pluit sendiri baru selesai di tahun 1981 ditandai dengan terjadinya banjir besar di wilayah itu.

Seiring berjalannya waktu, daerah bibir Waduk Pluit mulai ditumbuhi bangunan-bangunan semi-permanen yang dimanfaatkan warga sebagai tempat tinggal, ini jelas mengurangi fungsi sebenarnya dari rencana pembuatan Waduk Pluit tersebut yang merupakan wadah air dan daerah resapan. Terbukti daerah Pluit menjadi langganan banjir tiap tahunnya. Barulah di tahun 2013, pemerintah DKI mulai membenahi daerah tersebut.

Dari fenomena yang ada pada Waduk Pluit tersebut, dapat dilihat bahwa rencana tata ruang awal yang sebenarnya bersifat sangat vital, diterabas dengan latar belakang “kepentingan”. Hal ini sangat biasa terjadi di Indonesia, contoh lain misalnya Jalan Raya Kalimalang, yang tadinya merupakan jalur inspeksi saluran kalimalang yang seharusnya tidak diperbolehkan dibangun pusat keramaian di sekitarnya, sekarang? pertokoan menjamur, bahkan Jalan Tol pun dibangun di atasnya.

Jadi, banjir yang terjadi memang merupakan hal yang seharusnya sudah diperkirakan sejak awal, bahkan kawasan yang sekarang terendam banjir yang merupakan daerah pemukiman, memang sejatinya sudah diprediksi akan “kebanjiran” atau masuk dalam kategori daerah banjir. Karena daerah yang merupakan kawasan “penampung banjir tersebut” beralih fungsi, akhirnya air melalui daerah tersebut tidak dapat mengalir dan meresap dengan optimal. Karena hal tersebut, daerah yang seharusnya tidak banjir akhirnya ikut terkena imbasnya. Belum lagi sungai-sungai di Jakarta yang masih banyak tertimbun sampah.

Sudah saatnya bagi pemerintah untuk sadar akan pentingnya perencanaan tata ruang. Jangan sampai pindahnya Ibukota nanti menjadi sesuatu yang percuma karena prinsip-prinsip dasar tata ruang yang dianak-tirikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blogs

Group Members does not create any posts yet